Laman Jejakkasus.info

Jumat, 12 Juli 2013

Jual Miras, Alfamart Gresik Digerebek Polisi



Gresik- www.jejakkasus.info  - Mini market Alfamart yang berada di Jalan Raya Desa Petiken, Kecamatan Driyorejo, Gresik. Digerebek Satreskrim Polsek Driyorejo.

Penggerebekan ini dilakukan karena mini market Alfamart itu menyimpan minuman puluhan botol miras (minuman keras) berbagai Merek



  1. Beberapa miras yang disita polisi, diantaranya, bir hitam sebanyak 24 botol ukuran besar, Bir Bintang 36 botol dan Anker Bir 12 botol. Selain menyita miras, polisi juga mengamankan Hari Budiono (37) warga Perum Persada Bhayangkara Blok H5 Singosari, Kabupaten Malang, sebagai penanggungjawab, keberadaan miras tersebut.


Terungkapnya Alfamart yang menyimpan puluhan botol miras itu, berdasarkan informasi masyarakat, bahwa di pertokoan yang terletak di Desa Piteken itu ada miras yang dijual bebas.

  1. Mendapatkan informasi itu, Kanitreskrim Polsek Driyorejo, AKP Tulis, bersama dengan anggotanya, menyamar sebagai pembeli. Setelah dilakukan penyelidikan. Polisi langsung melakukan penggerebekan.


Kapolsek Driyorejo Kompol Supandi mengatakan, kegiatan ini adalah mendukung Gresik bebas miras dan Jatim Zerro Miras. "Tersangka langsung kami kirim ke Pengadilan Negeri (PN) Gresik, untuk ditindakan lanjuti tindak pidana ringan atau Tipiring," tandasnya.(ER)

Raihan Jewellery Segera Disidang



  1. Surabaya- www.jejakkasus.info Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya segera menyidangkan perkara yang membelit Direktur Utama (Dirut) Raihan Jewelry, Muhammad Azhari, setelah sempat dinyatakan bebas demi hukum gara-gara penyidik Polda Jatim tak menyertakan barang bukti sejumlah emas batangan saat pelimpahan tahap II.


"Tersangka yang satu ini cukup kooperatif, dia tidak melarikan diri saat dibebaskan demi hukum karena masa penahanannya telah habis ketika Tim Penyidik Polda tak mampu menyerahkan barang bukti emas batangan saat pelimpahan Tahap II ke Kejati," ungkap Kasi Pidum Kejari Surabaya, Judhy Ismono.

Kejari Surabaya menerima pelimpahan berkas tahap II dari Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (Kejati Jatim) setelah Polda Jatim akhirnya menyerahkan barang bukti sebanyak 23 emas batangan yang masing-masing beratnya 2,5 kg dengan total nilai Rp 6 miliar pada Selasa pekan lalu.

  1. Saat penyerahan barang bukti itulah tersangka, Muhammad Azhari, ditangkap kembali dan kini menjadi tahanan kejaksaan hingga perkaranya disidangkan ke pengadilan. Menurut Judhy, berkas perkaranya telah dilimpahkan ke pengadilan. "Tinggal kita tunggu saja jadwal persidangannya di PN Surabaya," pungkasnya.


Muhammad Azhari ditetapkan tersangka oleh Tim Penyidik Polda Jatim setelah sejumlah korbannya melaporkan kerugian karena tak kunjung menerima keuntungan 2,5 persen dari investasi yang disetorkan sebagaimana dijanjikan pihak Raihan Jewelry.(Limbat)

Edarkan Ganja, Juru Parkir di Masuk Kandang Macan Penjara






 
Sidoarjo- www.jejakkasus.info Yusup Ronny Samuel Aditya Livere (20) Bin Yulius llvere, tukang parkir di depan Pendopo Kabupaten Sidoarjo, diringkus Sat Reskoba Polres Sidoarjo, Jumat (12/7/2013).

Pemuda asal. RT 21 RW 01 perumahan Kemiri Indah Barat itu, kedapatan mengedarkan ganja dan pil dobel L. Dari tangan tersangka, petugas berhasil menyita 2 paket berisi 2,8 gram dan 2,6 gram ganja dalam plastik serta 12 tik pil koplo.

"Pelaku diringkus usai melayani pembeli dari unsur polisi yang menyamar. Setelah menyerahkan barang yang dipesan, petugas lansung menggelendang ke Mapolres Sidoarjo," ucap Kasat Narkoba AKP Chotib Widianto.

Pasca menangkap Yusup, petugas mengembangkan untuk mengejar pemasok daun haram kepada putra pegawai Kantor Pajak Surabaya itu. "Ganja itu didapat dari temannya asal Semambung Gedangan," terangnya.

Yusup mengaku dalam berbisnis ganja, dia mendapatkan untung Rp 15 ribu per paket berisi 2,6 gramnya. Pelaku mengambil ganja dari temannya Rp 50 ribu perbungkus, lalu dijual seharga Rp 65 ribu. "Saya baru lima kali ini bertransaksi ganja. Untuk pil koplo jenis dobel L saya konsumsi sendiri, tidak saya edarkan," akunya. (Zag).

Kamis, 11 Juli 2013

KALAU KETAHUAN KORUPSI- BARU UANG MAU DI KEMBALIKAN, DASAR MALING



                                                                 Korupsi Dana Perjalanan Dinas DPRD Rp13,2 Miliar



                                             
Keluarga Maksum Sanggupi Bayar Denda dan Kerugian Negara

Bojonegoro –  www.jejakkasus.info   - Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bojonegoro, Tugas Utoto mengungkapkan, keluarga terpidana mantan Wakil Ketua DPRD Bojonegoro, Maksum Amin bersedia membayar denda maupun uang kerugian negara atas putusan korupsi dana perjalanan dinas DPRD tahun 2006-2007 senilai Rp13,2 miliar.

"Iya, kemarin pagi anak perempuan terpidana Maksum kesini (kantor kejari,red) menyatakan kesanggupannya mengganti denda maupun uang kerugian negara," ujar Utoto, Jumat (12/07/2013).

Namun, pembicaraan atas kesanggupan mengganti uang negara ini, kata Utoto, belum dibahas secara rinci bagaimana proses pembayarannya nanti. Saat ini Maksum sendiri masih mendekam dibalik jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Bojonegoro. "Nanti proses pembayarannya bisa secara diangsur maupun langsung," lanjutnya.

Sesuai dengan Putusan Mahkamah Agung (MA) RI, No 481/K/pid.sus/2012 Maksum Amin dijatuhi pidana penjara selama enam tahun dan diwajibkan membayar denda sebesar Rp200 juta subsider enam bulan kurungan. Putusan tersebut sama dengan putusan terpidana lain dalam kasus ini yakni Mochtar Setijohadi yang juga merupakan mantan wakil ketua DPRD Bojonegoro.

MA mengabulkan permohonan kasasi Jaksa Penuntut Umum (JPU) serta menyatakan kedua terdakwa secara sah terbukti melakukan korupsi dana perjalanan dinas tahun 2006-2007 senilai Rp13,2 miliar. MA juga mewajibkan terdakwa membayar uang pengganti Rp687.900.000 untuk terdakwa Mochtar Setijohadi dan Rp754.050.000 untuk Maksum Amin.

Apabila mereka tidak bisa bisa membayar uang pengganti, maka harta milik Mochtar dan Maksum akan disita atau harus menjalani pidana enam bulan kurungan. Kedua mantan Wakil Ketua DPRD Bojonegoro periode 2004-2009 ini terbukti melakukan korupsi dana perjalanan dinas yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bojonegoro tahun 2006-2007 senilai Rp13,2 miliar.(Pria Sakti).

MESKIPUN UANG KORUPSI DI KEMBALIKAN! 2 ANGGOTA DPRD HARUS DI BUI DULU





SEKALIPUN UANG KORUPSI DI KEMBALIKAN! 2 ANGGOTA DPRD HARUS DI BUI DULU-COLOTEH PRIA SAKTI PRESIDEN JEJAK KASUS
Anggota DPRD Bojonegoro Kembalikan Uang Korupsi



Bojonegoro- www.jejakkasus.info  - Dua anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro yang menerima uang hasil korupsi dana perjalanan Dinas DPRD periode 2006-2007 akhirnya mengembalikan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro.

"Dari 10 anggota dewan aktif maupun yang sudah tidak aktiif kita panggil ada dua orang yang langsung mengembalikan," ujar Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro, Nusirwan Sahrul, Rabu (26/06/2013).

Dua anggota dewan yang mengembalikan itu kini masih aktif. Yakni, Abdul Wahid senilai Rp 58.600.000 dan Heni Sulistyo senilai Rp 83.400.000. Pengembalian uang kerugian negara ini tercancum dalam amar putusan Majelis Hakim MA No 1481 K/Pid.Sus/2012 dengan terpidana Mochtar Setijo Hadi.

"Dalam putusannya tercantum dari masing-masing yang bersangkutan yang menikmati harus mengembalikan uang kerugian negara," ungkap Nusirwan.

Pengembalian uang kerugian negara itu, bukan hanya dilakukan saat proses pengadilan sudah vonis, saat masih dalam proses penyidikan sejumlah anggota dewan yang juga menikmati uang hasiil korupsi itu sudah ada yang mengembalikan. Total uang yang dikembalikan saat proses penyidikan sejumlah Rp 902 juta dan sesuai putusan Rp 101.400.000.

"Ada yang katanya mengembalikan langasung ke rekening kas daerah, tapi harus bisa menunjukan bukti. Karena beberapa mengaku bukti struk sudah hilang," ungkapnya.

Sesuai putusan MA Kejaksaan sudah memanggil 38 orang, sehingga tinggal 15 orang lagi yang akan dipanggil. Kemarin Kejari memanggil 10 anggota dewan, yakni Abdul Gofar Nafik, Abdul Wahid, Agus Sugianto, Amar Ma'ruf, Anwar Sanusi, Arkham, Bambang Marsudiono, Feni Kumaidah, Heni Sulistyoningsih dan Asnaida. Dari sepuluh anggota dewan yang dipanggil itu satu orang tidak hadir yakni Asnaida.

Pemanggilan itu untuk melakukan klarifikasi adanya tindak pidana korupsi dana perjalanan dinas di DPRD pada tahun 2006-2007 senilai total Rp 13,2 Miliar. Kejari Bojonegoro mendesak para mantan anggota DPRD periode 2004 - 2009 itu agar mengembalikan tunggakan dana senilai total Rp.13,2 miliar.

Seperti diketahui, kasus perjalanan dinas DPRD Bojonegoro ini telah menjebloskan mantan pimpinan dewan, antara lain Ketua DPRD Tamam Syaefudin, Sekwan Prihadi, Wakil Ketua DPRD Mochtar Setyo Hadi dan Maksum Amin, serta mantan bendahara Sekwan Wahyuningsih.

Dalam kasus ini, hanya Wahyuningsih yang belum divonis olah Mahkamah Agung RI. Tamam Syaifudin oleh Majelis Hakim MA dijatuhi hukuman selama 3 tahun penjara, denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan dan harus mengembalikan uang pengganti senilai Rp 915.500.000.

Terdakwa Tamam tidak terbukti dalam dakwaan primer pasal 2 UU Tipikor Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, melainkan terbukti pasal 3 dakwaan subsider tentang menyalahgunakan wewenang.

Sementara, Mochtar Setijohadi dan Maksum Amin telah divonis bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut sesuai Pasal 2 Juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Mochtar Setijohadi dan Maksum Amin dihukum enam tahun penjara dan dikenai denda Rp200 juta. Mochtar Setijohadi juga diharuskan mengembalikan uang negara Rp687 juta dan Maksum Amin diharuskan mengembalikan uang negara senilai Rp754 juta.

Politisi asal PDI Perjuangan, Mochtar iitu kini statusnya masih buron. Bahkan ia sudah dicekal (cegah dan tangkal) untuk tidak bisa kabur ke luar negeri. Sementara Maksum kondisi kesehatannya menurun dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.(PRAS).